Secara finansial tak ada sepeser pun keuntungan yang didapat M Basar dari jabatan Presiden Boromania yang disandangnya. Malah, demi kelangsungan kegiatan suporter fanatik Persibo Bojonegoro itu, tak jarang Basar harus merogoh kocek pribadinya. "Saya harus pinter-pinter ngemong mereka. Anggota Boromania itu banyak, korwilnya saja puluhan, kadangkala mereka saya kirimi pulsa," kata Basar yang ditemui pada paro waktu pertandingan Persibo melawan Persiba Bantul di Stadion Letjen H Soedirman, Bojonegoro, Sabtu (14/1).
Sore itu, seperti biasa, Basar mengenakan seragam kebesarannya; kaos merah berlogo Indonesian Premier League (IPL), jaket hitam, plus kacamata yang nangkring di atas topinya. Pada bagian dada kiri jaket yang dia kenakan ada logo Persibo, sementara di kanan logo 'Republik Boromania' dengan tulisan 'Presiden' di bawahnya. "Ngurusi suporter itu jangan mikir untung atau uang. Nggak ada itu. Saya ini cuma cari kawan dan kepuasan batin," imbuhnya.
Boromania adalah sebutan bagi komunitas pendukung Persibo. Anggota resminya saat ini mencapai 11.200 orang, tersebar di hampir seluruh kecamatan di Bojonegoro.
Angka itu hanya untuk mereka yang mempunyai Kartu Tanda Anggota (KTA), jadi belum termasuk yang 'berstatus' simpatisan. Dari 27 kecamatan di Bojonegoro cuma tiga kecamatan yang belum dimasuki Boromania. "Yaitu Kecamatan Kedewan, Kasiman dan Margo Mulyo," jelas Basar.
Jika dirinci pengurus Boromania terdiri dari 21 steward, 21 korwil, 10 pemandu musik, 120 korlap serta tujuh pengurus harian. Namanya saja komunitas suporter, tugas utama mereka adalah memberikan dukungan langsung ketika Samsul Arif dan kawan-kawan menjalani pertandingan. Itu tak hanya berlaku pada laga home di Stadion Letjen Sudirman. Kata Basar, "Kami juga memberangkatkan suporter dengan bus ketika Persibo main di luar kandang. Jumlahnya tergantung jauh dekatnya lokasi pertandingan."
Di luar itu Boromania juga aktif menggelar kegiatan sosial. Yang terbaru adalah donor darah dalam rangka launching tim Persibo di depan Stadion Letjen H Soedirman, Minggu, 11 Desember 2011. "Waktu itu kami berhasil mengumpulkan 340 kantong darah. Itu merupakan rekor di Bojonegoro," ungkapnya. Basar menegaskan, dalam setiap kiprahnya Boromania selalu mengusung semangat cinta damai. Memberikan dukungan fanatik terhadap klub kebanggaan sah-sah saja tapi jangan sampai ternodai dengan aksi anarkis atau permusuhan.
"Boromania itu bersaudara dengan rekan-rekan suporter dari daerah lain. Dengan Bonek kita baik, dengan Aremania juga begitu. Hanya satu kelompok suporter yang tidak mau kita ajak bersaudara (Basar menyebut nama kelompok suporter dimaksud, red). Saya sudah berusaha ngalah, tapi mereka nggak mau," kata Basar lagi.
Malah, Boromania pernah mengalami kasus dihadang suporter tersebut ketika dalam perjalanan dari Surabaya ke Bojonegoro. Suporter Persibo yang naik bus sepulang menyaksikan pertandingan di Sidoarjo dilempari batu. Berkaca dari pengalaman itu Basar lebih suka tidak memberangkatkan suporter bila berisiko jadi korban lemparan batu atau serangan fisik lainnya. "Kalaupun benar-benar ingin berangkat ya pakai pakaian netral saja, yang tidak ada atribut Persibo-nya," pungkas pria yang berprofesi sebagai petani itu. (Sumarlin)